Nge-Barcode
Oleh : Taufik Rahman
Fenomena nge-barcode, atau
upaya untuk menyakiti diri sendiri karena tekanan psikologis, mulai banyak terjadi
hingga ke tingkat anak-anak Sekolah Dasar.
Rasa takut, kecemasan, hingga
kesedihan berpotensi membuat seseorang ingin menyalurkan rasa sakit pada upaya
tersebut. Perilaku ini tentu sangat mengkhawatirkan, mengingat jumlah anak muda
hingga dewasa yang berada dalam kondisi mental yang buruk dan tidak segera
ditangani.
Dalam kehidupan modern yang serba
kompleks ini, dimana ilmu pengetahuan dan teknologi begitu canggih dan
mengelaborasi ke hampir seluruh kawasan dunia (global).
Pada saat mana manusia harus
berkelit dengan Problem kehidupan yang serba materialistis dan pada
gilirannya sangat egois dan individual. Hubungan antara manusia pada zaman modern
juga cenderung “impersonal”, sedemikian rupa sehingga hubungan mereka
sudah tidak terlalu akrab lagi.
Masyarakat tradisional yang guyub
dikikis oleh gelombang masyarakat modern yang tembayan. Fenomena-fenomena
tersebut membuat manusia semakin kehilangan jati dirinya. Kondisi demikian juga
mengharuskan manusia untuk benar-benar mampu bertahan mengendalikan dirinya,
untuk kemudian tetapi tegar dalam kepribadian.
Ini merupakan satu hal yang perlu
diwaspadai, karena menjadi salah satu gejala mental illness. Ke depan
ini sangat berbahaya. Meskipun kita tidak boleh mengatakan akan cenderung ke suicide.
Menurut yang saya temui kalau yang
terjadi di lapangan itu solusi dari masalah yang dihadapi, justru bersifat manipulatif
dan sangat sulit untuk menjelaskan secara jujur para pelaku “nge-barcode”
tersebut.
Terdapat lima tahap dampak yang
terjadi setelah melakukan self-injury, dan kelimanya membentuk sebuah
pola siklus berulang. Ketika seseorang menghadapi konflik dan tekanan, lalu
memilih perilaku NSSI sebagai solusi, timbul pikiran negatif setelah
melakukannya. Rasa malu, kecemasan, tingkat kemarahan, merupakan contoh emosi
negatif yang banyak berkembang pada pelaku self-injury. Setiap tahap
menunjukkan peningkatan emosi ini, hingga menjadi sebuah pola pikir. Pada
akhirnya, seseorang akan merasa tidak dapat keluar dari masalah.
Menurut Data dari Wirdatul Anisa,
M.Psi yang juga Peneliti CPMH UGM mengungkapkan, sebanyak 36,9% masyarakat
Indonesia pernah melakukan upaya menyakiti diri sendiri dengan sengaja. Jumlah
ini banyak didominasi oleh kelompok usia muda, yakni 18-24 tahun, dengan
persentase sebesar 45%. Sayangnya, mayoritas dari angka tersebut tidak memiliki
kesempatan untuk mendapat penanganan dengan baik, hingga menjadikan perilaku nge-barcode
sebagai perilaku maladaptif.
Ada penelitian menemukan, semakin
banyak waktu yang digunakan untuk berada di media sosial, itu akan semakin
mendorong perilaku melukai diri sendiri pada remaja yang rentan. Jadi, kalau
remajanya memang sudah memiliki ketidakstabilan emosi, kesulitan mengelola
emosi, dan kesulitan mengelola stres, ketika dia banyak berinteraksi dengan
media sosial, dia memiliki potensi yang paling besar untuk melakukan ini,
Tak hanya itu, ketika seseorang
memiliki kecenderungan self-injury dan melihat banyak yang juga
melakukannya, muncul pemikiran bahwa perilaku tersebut adalah hal yang normal.
Bahkan dalam beberapa kasus, individu banyak meniru satu sama lain, dan
mengembangkan metode self-injury dari paparan media sosial.
Kita bisa melihat data-data di
instagram itu. Banyak sekali ternyata unggahan yang melibatkan tagar berbau self-harm,
yang itu kemudian menjadi tren. Dalam beberapa aplikasi lain, seperti novel
online, banyak juga cerita-cerita yang seolah mempromosikan perilaku
tersebut. Apalagi di twitter, di mana banyak orang memberikan komentar,
dan tanpa sadar telah mempromosikannya,
Dan yang saya temui juga faktor dari
keluarga juga sangat mempengaruhi anak tersebut melakukan nge-barcode dengan
dalih ingin melampiaskan stress atau mencari pelarian lain
Perilaku self-injury
membutuhkan penanganan cepat dan tepat, sebelum mengarah pada perilaku melyelesaikan
dirinya atau bunuh diri. Selain segera mengunjungi psikolog untuk melakukan
konseling, bantuan tersebut bisa didapatkan melalui olah pikir diri sendiri,
maupun dengan bantuan orang lain. Seseorang perlu mengenal dan memahami diri
sendiri, serta mengalihkan diri dari keinginan untuk melukai diri sendiri untuk
dapat mengelola emosinya. Bentuk aktivitas yang bisa dilakukan, dapat berupa
journaling, merenungkan, melakukan hal-hal yang menyenangkan, atau menghubungi
kerabat dan teman. Dan yang terpenting adalah, keinginan kuat seseorang untuk
bisa keluar dari siklus self-injury tersebut.
Padahal Konsep kesehatan mental sudah
jelas berdasarkan pada surah: Q.S. al-Baqarah: 53, Q.S. Ali Imran (3): 200, Surat Ar-ra’d
(13): 11, Q.S. Yūsuf: 87; Q.S. Al A’raf:
199, Q.S. Rum (30): 38, Q.S. Fuṣilat ( 41): 53.
Terdapat beberapa esensi terkait
dengan sabar. Ayat yang mengandung kata sabar dengan redaksi amr terdapat pada
ayat-ayat yang menyatakan perintah sabar dalam menghadapi ujian tersebut: Q.S.
al-Baqarah (2): 153, Q.S. al- Baqarah, (2):155; al-Rum, (30): 60; Hūd, (11):
49.
Dari sini terlihat bahwa dalam
konsep sabar di dalam al-Qur’ān juga memuat sikap-sikap Adversity quotient yang
dirumuskan di al Qur’ān, yaitu adanya dimensi ketuhanan Pendekatan psikoterapi
keagamaan ini terdapat dalam al-Qur’an pada Q.S. Yunus (10): 57 dan Q.S. Al
Isra’(17): 82.
Segala bentuk terapi yang
menggunakan media atau digali dari al-Qur’an misalnya seperti: ruqyah, dzikir,
doa, sholat, dan haji
Al-Qur’ān sebagai sumber ajaran
Islam, kebenarannya bersifat hakiki dan tidak ada keraguan didalamnya karena ia
diturunkan oleh Allah SWT, sebagai kitab suci yang berisi petunjuk dan
penjelasan (Ramayulis & Nizar, S., 2010).
Pada intinya dalam kasus nge-barcode
ini, saya pribadi sangat menyyangkan kepada Generasi Z maupun Generasi Alpha faktor
palingn mempengaruhi ialah berasal dari faktor keluarga.
Faktor keluarga sangat mempengaruhi,
saya menemukan bahwa penyakit ini sudah merambah ke anak-anak kelas 4 Sekolah
Dasar (SD), ada yang berawal dari Broken Home, tuntutan nilai hingga
kekerasan dalam yang dilakukan kepada orang tuanya, jelas hal ini sangat
berpengaruh pada anak-anak, seperti yang saya temui salah satunya bernama Karmila
& Alma.
Pernyataan dari kedua anak tersebut memnbuat
saya sangat sedih, di umur yang masih sangat muda, mereka sudah mengalami pengalaman
yang begitu menyedihkan, apalagi harus melihat tangannya disayat oleh dirinya
sendiri.
Begitu melihat kenyataan yang ada
pada kisah Karmila dan Alma, kasus ini bukan hanya berhenti di Karmila dan Alma
saja, mungkin banyak kasus diluar sana yang mengalami kisah Karmila dan Alma.
Harapannya kasus nge-barcode ini
dapat segera diatasi, semoga peran keluarga dapat diperkuat guna mencegah
terjadinya kasus sakit mental, dan semoga anak-anak atau kaula muda yang
mengalami kasus nge-barcode ini agar lebih terbuka pada perasaannya terlebih
utamakan selalu ibadah karena islam sudah mengajarkan sangat jelas tentang
penyakit mental, maka dari itu ikutilah panduan-panduan dari ajaran islam



Komentar
Posting Komentar