Perjalanan Menuju Tuhan
Oleh Taufik Rahman
Setiap
manusia pasti pernah berbuat dosa. Baik dosa yang dilakukan secara sengaja
ataupun tidak disengaja. Sebagai makhluk Allah yang dibekali dengan akal dan
pikiran, dosa tersebut harus segera diobati dengan bertaubat. Caranya dengan
istighfar memohon ampunan kepada Allah SWT dan tidak mengulangi lagi dosa yang
dilakukan.
Banyak
dosa kerap membuat seseorang bisa berputus asa. Namun yakinlah jika Allah Yang
Maha Pengampun akan mengampuni dosa yang dilakukan asalkan dengan bertaubat.
Menurut
Anggota Komisi Fatwa Lembaga Fatwa Darul Ifta Mesir, Syekh Mahmud Syalabi yang
mendapat pertanyaan mengenai apa yang harus dilakukan seseorang yang menyesali
perbuatannya setelah terjerumus ke dalam perangkap zina.
Karena
Orang tersebut khawatir dan merasa dosanya tidak akan mendapat ampunan.
Beliau
menyarankan agar yang bersangkutan terus memohon ampunan kepada Allah SWT
dengan ikhlas. Selain itu juga harus meningkatkan ketaatannya kepada Allah SWT
dengan memperbanyak amal ibadah.
"Allah
SWT itu Maha pengampun dan Maha pengasih bagi para hamba-Nya yang berbuat dosa
lalu bertaubat dengan sungguh-sungguh dan memohon ampunan. Allah SWT akan
menerima taubat tersebut selama orang yang bersangkutan ikhlas dan
sungguh-sungguh dalam taubatnya dan berkomitmen tidak mengulanginya,"
Hal
senada diungkapkan oleh ulama kharismatik Gus Miftah yang mengapresiasi orang-orang
yang punya banyak dosa. Lho, kok bisa? Ternyata bukan sembarang orang
berdosa, melainkan para pendosa yang selalu khawatir dengan dosa-dosanya
tersebut.
Kiyai
kondang bernama asli KH. Miftah Maulana Habiburrahman ini menjelaskan, para
pendosa model ini bahkan lebih baik daripada orang yang melakukan banyak amal.
“Lebih
baik para pendosa yang khawatir dengan dosa-dosanya, daripada orang yang banyak
amalan tetapi sombong dengan amalannya,” tegas Gus Miftah
Dalam
ceramahnya, Gus Miftah memberikan motivasi kepada orang-orang yang merasa punya
banyak dosa. Menurutnya, setiap orang pasti punya dosa yang dilakukannya di
masa lalu. Kendati demikian, setiap orang memiliki masa depan yang diberikan Allah
untuk memohon ampun atas dosa-dosanya itu.
“Orang
baik punya masa lalu, orang jelek pasti punya masa depan. Kenapa kaca mobil
bagian depan jauh lebih besar dibandingkan kaca spion? Jawabannya sederhana.
Karena masa depan kita jauh lebih besar dibandingkan masa lalu kita,”
terangnya.
Gus Miftah dikenal sebagai ustadz yang kerap berceramah di tempat ‘gelap’.
“Perlu
di katahui bahwa jamaah beliau kebanyakan adalah para preman dan pekerja di
tempat prostitusi.”
Tapi
apakah diri bisa seperti mereka?
Dasar
dari sebuah pertanyaan ini yang melihat keresahan yang dialami oleh diri ini
dan juga melihat kenyataan yang amat sangat membingungkan.
Dalam
perjalanan taubat ini ternyata banyak hambatan dan halangan yang dirasakan, aku
berfikir mungkin karena ini adalah bagian dari ujian tuhan, bahwa apakah diri ini memang
bersungguh – sungguh atau tidak dalam bertaubat.
Diri
ini memang banyak menemukan berbagai macam kesulitan dan hambatan dalam
perjalanan taubat, ada 3 faktor kesulitan yang dialami yaitu seperti vonis
masyarakat, faktor teman faktor lain.
Masih
teringat betul dalam benak saya, bagaimana vonis lingkungan itu sangatlah
berpengaruh besar dan sangat kejam, karena banyak dari orang – orang kita masih
memakai tradisi lama, jadi jika melihat sesuatu hal yang lebih buruk dari nya,
maka mereka akan ramai - ramai memvonis atau menghujat orang tersebut tanpa
mereka tahu atau sekedar mencari tahu mengapa mereka bisa menjadi pribadi yang
kurang baik.
Maka
dari itu, sudah seharusnya kita melihat segala sesuatu itu dari berbagai sudut
pandang.
Seperti
contoh bagaimana mereka bisa tersesat? Harusnya kita jangan sibuk mencari kesalahannya
tapi sibuklah mencari mengapa dia bisa tersesat.
Secara
sadar kita selalu menjustifikasi orang itu dengan keburukanya, dan amat di sayangkan
dengan kondisi tersebut tidak akan merubah keadaan, malah yang terjadi mereka
akan semakin menjadi dalam keburukannya.
Dalam
kondisi ini, aku merasakan betul dengan yang ku alami sendiri,
Aku
merasa tidak menemukan bagaimana indahnya ajaran agama yang semestinya tentang
kasih sayang seperti dua tokoh ulama diatas.
Bahkan
di dalam institusi atau Lembaga tempatku ku belajar saat ini, kalau boleh jujur
mereka sendiri tak jauh berbeda denganku
Hanya
saja dalam Casing yang berbeda. Sedikit banyaknya itulah realita yang terjadi
dan ku alami sendiri Ketika casing lebih diutamakan dibanding Akhla. Sangat disesali
orang – orang yang berilmu tinggi tapi tak mempunyai akhlak yang baik.
Ada
kutipan bagus dari seorang tokoh islam yang bernama Syeikh Abdul Qodir
Jaelani dan beliau yang berkata :
“Aku
lebih menghargai orang yang beradab daripada berilmu, kalau hanya hanya berilmu
Iblis pun lebih tinggi ilmunya dari manusia”
Mungkin
kutipan diatas memang mewakili bagaiamana kejamnya vonis lingkungan terhadap
seseorang yang notabene nya bukan orang baik.
Sebenarnya
banyak orang – orang yang ingin menajdi orang baik akan tetapi merka berada di
tempat yang gelap, dalam kondisi seperti mereka, sebenarnya mereka butuh
pertolongan tapi banyak dari mereka yang tak bisa tertolong karena ke engganan
untuk mendekatkan mereka
Aku
berharap untuk semua orang yang merasa dirinya lebih baik untuk menolong atau
membimbing orang – orang yang tersesat dijalan Nya, agar ia bisa menemukan
Esensi Tuhan secara utuh.
Karena
sejatinya orang tersesat itu jangan di vonis bahwa ia tersesat tapi di tolong
atau dibantu dan Percayalah tuhan tidak menciptakan manusia buruk di muka bumi
ini, tapi mereka hanya tersesat dalam perjalannya


Komentar
Posting Komentar